Infomenia

Senin, 19 Desember 2016

Astaga...Ini Alasan Partai Demokrat dan Gerindra Tolak Prof Dr Ikrar Nusa Bakti Jadi Dubes Tunisia



Infomenia.net -Komisi I DPR telah selesai menggelar uji kepatutan dan kelayakan calon duta besar (Dubes) yang akan ditempatkan di sejumlah negara sahabat.
Dari 23 calon duta besar yang diajukan Presiden Jokowi ke DPR, terdapat satu calon yang dipandang tidak layak sehingga diberikan catatan oleh sejumlah fraksi. Dia adalah pengamat politik LIPI Ikrar Nusa Bakti, calon Dubes RI untuk Tunisia.
Ikrar ditolak dua fraksi di DPR, yakni Fraksi Demokrat dan Gerindra.
Anggota Komisi I DPR Fraksi Demokrat Syarif Hasan menganggap, apa yang disampaikan Ikrar saat uji kepatutan dan kelayakan tidak membuat fraksinya puas. Hal ini lah yang menjadi latar belakang Fraksi Demokrat memberikan catatan pada Ikrar.
"Ya waktu dimana fit and proper test ada statement yang meragukan Demokrat, dia akan memberikan tugas khusus untuk Tunisia dari Presiden padahal itu bukan tugas seorang Dubes," kata dia di Jakarta, Jumat (16/12).
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat ini juga menilai, sosok Ikrar belum bisa lepas dari pengamat politik. Hal ini masih terlihat dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi I DPR kemarin.
"Selama ini saya melihat, tidak bisa menempatkan diri sesuai dengan predikatnya," kata Syarif.
Kendati demikian, tutur dia, dari sisi pengetahuan Ikrar sudah layak menjadi perwakilan Dubes RI. "Dari sisi pengetahuan dia layak," kata dia.
Walaupun Fraksi Demokrat memberikan catatan pada calon Dbes Tunisia itu, Syarif menyerahkan sepenuhnya kepada Presiden Jokowi.
"Itu kebijakan presiden, kita tidak bisa mencampuri kebijakan presiden," tandasnya.
Catatan dari Fraksi Gerindra dan Demokrat akan dilampirkan dalam hasil keputusan Komisi I DPR. Calon dubes itu akan kembali dikirimkan ke Presiden. 
Bocoran dari Politisi PDI-P
Fraksi Gerindra dan Demokrat menolak pencalonan pengamat politik LIPI Ikrar Nusa Bhakti sebagai Duta Besar(Dubes) Indonesia untuk Tunisia. Penolakan tersebut mengemuka dalam ujia kepatutan dan kelayakan calon dubes di Komisi I, DPR RI.  
Uji kepatutan diikuti oleh 23 calon dubes. Kendati proses pengujian telah rampung, namun hasilnya belum dapat dipublikasikan. Namun, Anggota Komisi I DPR RI Andreas Hugo Pareira memberikan bocoran mengenai beberapa informasi penting selama pengujian. 
Menurutnya, 23 calon yang dipilih oleh Presiden Jokowi dianggap layak untuk ditugaskan sebagai  Dubes RI. Hanya saja, ada dua fraksi, yakni Demokrat dan Gerindra yang menolak Ikrar Nusa Bhakti menjadi Dubes Tunisia. "Memang ada catatan sedikit dari Pak Ikrar. Catatan dari teman-teman Demokrat dan Gerindra yang dianggap tidak layak untuk menduduki pos Duta Besar Tunisia," ucap Andreas di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (15/12/2016).
Keputusan Komisi I DPR menyebutkan, Ikrar mendapatkan catatan dari Fraksi Gerindra dan Demokrat. Nantinya akan dilampirkan dalam hasil keputusan tersebut. "Memang tadi malam terkait Pak Ikrar belum ada kesepakatan bulat, sehingga kemudian rapat memutuskan agar memberikan catatan. Artinya dua fraksi ini bisa melampirkan catatan calon dubes ini," ucapnya.
Andreas berharap alasan kedua fraksi menolak Ikrar menjadi Dubes RI untuk Tunisia bukan karena persoalan pribadi, dimana Ikrar sering mengkritisi kebijakan partai yang ada di Indonesia. "Saya harap tidak, karena Pak Ikrar pada kami (PDIP) juga kritis dan ke pemerintah juga dia kritis, dia seorang akademisi. Saya yakin ketika dia ditunjuk menjadi dubes akan bisa menempatka diri," tandasnya.Indopos.co.id

Ini 23 nama calon dubes Indonesia yang diajukan Presiden ke DPR :

1. Tokyo: Arifin Tasrif
2. Athena: Ferry Adamhar
3. Bogota: Priyo Iswanto
4. Canberra: Kristiarto Legowo
5. Dili: Sahat Sitorus

6. Jenewa: Hasan Kleib
7. Kabul: Mayjen Dr. Ir. Arief Rachman
8. Kolombo: Ngurah Ardiyasa
9. Kiev: Prof Dr Yuddy Chrisnandi
10. Manama: Nur Syahrir Rahardjo

11. Roma: Esti Andayani
12. Seoul: Umar Hadi
13. Wina: Darmansjah Djumala
14. New Delhi: Arto Suryo-di-puro
15. Dhaka: Rina Soemarno

16. Amman: Andy Rachmianto
17. Bratislava: Wieke Adiwoso
18. Dar Es Salam: Prof. Radar Pardede
19. Wellington: Tantowi Yahya
20. Zagreb: Komjen (pol) Sjahroedin

21. Astana: Rachmat Pramono
22. Tunis: Ikrar Nusa Bhakti
23. Kuala Lumpur: Rusdi Kirana

Comments
0 Comments

0 komentar